Konferensi ekonomi atau bisa juga disebut Kesepakatan Abad Ini menuai banyak kecaman. Konferensi tersebut dipimpin AS dan dimulai pada bulan Juni lalu di Bahrain.

Konferensi mengenai rencana ekonomi untuk Palestina dan daerah Timur Tengah mengakibatkan Palestina menolak konferensi ekonomi tersebut. Pasalnya, penasihat Trump membeberkan data hk rincian rencana ekonomi terbesar di Timur Tengah tersebut namun sama sekali tak menyinggung hak warga negara Palestina.

Oleh karena hal tersebut, Palestina juga mengambil sejumlah tindakan untuk menyikapi Konferensi Manama.

Apa itu Konferensi Ekonomi di Bahrain?

Konferensi ekonomi di Bahrain merupakan usulan Amerika atas Palestina dengan menawarkan sejumlah solusi. Akan tetapi, usulan tersebut hanyalah langkah awal Amerika untuk menaklukan Palestina dengan cara lebih halus.

Alasan Mengapa Palestina Menolak Konferensi Ekonomi di Bahrain

Alasan pertama bahwa Palestina menolak konferensi ekonomi tersebut adalah rekomendasi yang dihasilkan begitu menyulitkan rakyat Palestina. Hasil tersebut pun diyakini akan membuat Palestina kembali larut dalam kesedihan.

Selanjutnya, Palestina turut mempertanyakan niat serta ketulusan Amerika terkait konferensi di Bahrain. Sebagaimana diketahui bahwa Amerika menyebut bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel.

Mengingat ketidaksungguhan Amerika yang sudah terjadi sebelumnya, membuat Palestina menolak konferensi ekonomi tersebut dan memilih tidak hadir di Bahrain. Pemerintah Palestina pun menduga bahwa konferensi tersebut dibuat untuk kepentingan para pengusaha Amerika.

Konferensi yang juga dihadiri oleh negara-negara Timur Tengah tersebut membahas berbagai proyek di Palestina, yang justru membuat pemerintah Palestina menganggap bahwa Trump hanya mengiming-imingi negara mereka dengan uang guna melancarkan kepentingan politik Amerika.

Dalam konferensi tersebut juga dibahas nominal dana yang akan dicairkan untuk diinvestasikan selama 10 tahun dalam bidang pendidikan, pariwisata, dan sejumlah infrastuktur lain. Lebih dari satu abad pemerintah Palestina menemukan berbagai masalah politik dan ekonomi.

Akan tetapi, solusi yang ditawarkan bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Palestina. Karenanya Palestina menolak konferensi ekonomi tersebut. Pemerintah menegaskan bahwa selama ini yang dibutuhkan oleh Palestina hanyalah kemerdekaan dari jajahan politik yang sudah lama berlangsung di negara mereka.

Pemerintah pun menegaskan bahwa Palestina menolak konferensi ekonomi di Bahrain atau konferensi apapun tanpa ada keputusan merdeka bagi Palestina.

Dukungan Terhadap Palestina

Keputusan Palestina menolak konferensi ekonomi di Bahrain mengundang negara-negara lain untuk turut menyatakan pendapat dan dukungan terhadap Palestina. Seperti Lebanon yang memberikan pandangannya terhadap konferensi tersebut.

Meski negaranya tidak dilibatkan dalam konferensi tersebut, tetapi Lebanon turut mendukung keputusan Palestina menolak konferensi ekonomi tersebut begitu mendengar kabar bahwa dalam rencana itu Amerika tidak menyertakan pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Selain Lebanon, pemerintah Kuwait juga turut mengecam konferensi ekonomi di Bahrain tersebut. Dalam pandangan negaranya, konferensi Bahrain hanya akan menghapus hak-hak warga Palestina.

Konferensi di Manama, Bahrain, tersebut dinilai sebagai skenario Amerika sebagai dukungannya terhadap Israel. Negara yang dipimpin Trump itu dituding membebani Arab dalam biaya proses damai tersebut.

Sebagai bukti bahwa pemerintah Kuwait mendukung Palestina menolak konferensi ekonomi di Bahrain, warga Maroko menggelar sejumlah unjuk rasa di kota Rabat sebagai kecaman terhadap konferensi Bahrain yang sangat merugikan Palestina.

Rupanya, tidak hanya Lebanon dan Kuwait yang menindak tegas konferensi Manama tersebut. Meski negaranya dijadikan sebagai tuan rumah, rakyat Bahrain turut turun ke jalanan guna melakukan dukungan Palestina menolak konferensi ekonomi.

Diiringi teriakan, mereka mengecam jamuan peremintah Bahrain yang dianggap mengesampingkan masalah yang dialami Palestina. Satu rancangan usulan Trump tersebut merupakan kedok untuk mengenyahkan Palestina terjajah menjadi sebuah negara kecil beribu kota Abu Dis.

Konferensi Manama yang membuat Palestina menolak konferensi ekonomi tersebut adalah langkah licik yang digunakan Amerika-Israel untuk menaklukan Palestina. Negara-negara yang turut menolak Palestina menilai bahwa solusi yang diajukan Trump hanya untuk menghanguskan hak-hak warga Palestina dan merebut wilayah Tepi Barat.

Bidang ekonomi yang dipilih negara AS bertujuan untuk menarik para investor dan memberikan ajuan hutang yang dikenakan bunga kecil membuat kepala Hamas menuntut langsung pimpinan Bahrain untuk menggagalkan rencana licik tersebut.

Terutama ketika berembus kabar bahwa konferensi tersebut dihadiri oleh sejumlah petinggi Zionis dan dipimpin oleh Benjamin Netanyahu.Republik Indonesia turut mengemukakan pendapatnya, bahwa apapun yang terjadi dalam sebuah konferensi internasional, isu Palestina harus diperhatikan.

Indonesia juga menyatakan dukungan agar terjadi perdamaian untuk Palestina dan hak-hak warga Palestina harus terpenuhi.

Konferensi Manama yang dilakukan di Bahrain memang patut membuat Palestina menolak konferensi ekonomi karena memberikan peluang untuk mengesampingkan pemenuhan hak-hak warga Palestina untuk memerdekakan diri.

Melihat sudah lama Palestina mengalami penjajahan dan tak kunjung merdeka, konferensi dengan iming-iming ekonomi seperti itu bukan solusi yang baik untuk menyelesaikan perselisihan antara Palestina dan Israel.